5 Kesalahan Umum Saat Jalankan Influencer Marketing
Influencer Marketing udah jadi salah satu strategi wajib buat brand yang mau menjangkau audiens dengan cara yang lebih personal dan relevan. Sayangnya, masih banyak campaign brand yang nggak mencapai hasil maksimal, padahal udah ngabisin waktu, effort, dan budget yang nggak sedikit loh. Coba intip artikel ini deh buat liat 5 kesahalan umum brand saat menjalankan strategi influencer marketing, dan cara ngatasinnya!

1. Nggak punya tujuan yang jelas
Masih banyak loh brand yang langsung “gass” bikin campaign tanpa tau apa sebenernya yang jadi goals utama nya. Tanpa objective yang jelas, hasil campaignnya tuh bakal sulit diukur loh.
Makanya sebelum mulai campaign influencer marketing, kamu wajib banget buat set KPI dari awal. Tentuin goals utama nya apa (misalnya awareness, engagement, conversion, dll), terus matriks yang mau diukur apa (misalnya views, likes, link clicks, leads, dll). Jangan lupa sesuaikan juga goals dengan tipe influencer dan format konten yang relevan.
2. Salah Pilih Influencer
Nyari KOL atau Influencer tuh ga gampang loh. Makanya masih banyak brand yang masih salah pilih influencer buat dimasukin ke dalam campaignnya mereka. “Yang penting followers nya banyak!” “Yang penting terkenal”, ini nih kesalahan paling klasik yang berulang. Padahal, angka followers besar nggak selalu impactful kalo nggak sesuai sama target brand dan brand value.
Solusinya, kalian harus ngerti banget brand value dan objective campaign yang mau kalian buat. Setelah itu, kalian bisa gunain data buat nentuin influencer yang sesuai, dari mulai niche influencernya, demografi audiens, engagement rate, sampe gaya kontennya. Selain itu, kamu bisa periksa juga reputasi dan riwayat kolaborasi mereka sebelumnya, untuk liat rekam jejak dan dampak yang mereka kasih.
3. Brief Terlalu Kaku
Brief itu ibarat peta campaign, bukan sekedar “catetan” aja buat influencer. Brief berisi tujuan campaign, target audiens, key message, nilai atau karakter brand yang harus dijaga, dan output konten yang diharapkan dari influencer (misal nya video, foto, storyline, script, dll). Nah kalo brief nya nggak jelas (atau bahkan nggak ada brief), hasilnya ya influencer bingung harus bikin konten kaya gimana, pesan brand nggak sampe ke audiens, gaya konten influencer nggak sesuai dengan ekspektasi brand, dan akhirnya campaignnya jadi nggak impactful buat brand.
Makanya kalian harus banget bikin brief yang seimbang, nggak terlalu kaku, tapi nggak terlalu bebas juga. Tetep kasih arahan yang jelas kaya brand background, product knowledge, objective dan KPI campaign, key message, do’s and don'ts, content direction (tone, format, storytelling style, referensi konten, dll), dan CTA. Nah hal yang paling penting, kamu harus kasih kebebasan untuk influencer buat eksplor dari segi creative dan storytellingnya. Hal ini penting agar output kontennya jadi lebih natural, nggak kaku dan keliatan endorse banget, dan sesuai juga sama persona atau niche influencer tersebut.
4. Skip Monitoring secara Real Time
Masih banyak brand yang nggak melakukan monitoring secara real time buat analisis konten campaign. Real time tracking ini berguna banget buat mantau performa konten, apakah hasilnya bagus atau enggak. Dengan melakukan tracking ini, kamu jadi bisa tau gimana caranya buat mengoptimalkan campaign tersebut.
5. Brand Langsung “cabut” Setelah Campaign Selesai
Kadang nih setelah campaign berakhir, brand tuh langsung “cabut” ninggalin influencernya. Padahal, influencer akan ngerasa lebih dihargai dan akan lebih loyal kalo brand ngejaga komunikasi dengan influencer meski campaignnya telah berakhir.
Jadi penting juga buat brand jaga komunikasi jangka panjang sama influencer. Anggap influencer ini adalah creative partner, bukan sekedar channel promosi aja. Kamu bisa kasih feedback, apresiasi, bahkan “basa basi” meski campaignnya udah berakhir.
Influencer Marketing bukan sekedar soal siapa yang punya followers banyak, tapi bagaimana brand dan influencer bisa connect secara atutentik dengan audiensnya.
Dengan menghindari 5 kesalahan di atas, brand bisa menciptakan campaign yang relevan, terukur, impactful, dan meaningful.
Kalo kamu masih bingung buat biking campaign influencer marketing, Kamaye Digital Agency siap bantu brand kamu buat bikin campaign yang impactful!
How did you find this article?
Comments (0)
Sign in to join the conversation
Share your thoughts and connect with other readers by signing in with Google.
Related Articles

Kenapa Engagement Rate Lebih Penting daripada Jumlah Followers?
Jumlah followers sering menjadi patokan utama saat memilih influencer. Namun, engagement rate sebenarnya merupakan indikator yang lebih akurat untuk mengukur kualitas audiens dan potensi keberhasilan campaign.

Barter Collaboration vs Paid Collaboration: Strategi Mana yang Lebih Efektif untuk Brand?
Barter collaboration dan paid collaboration menjadi dua strategi yang paling sering digunakan brand dalam influencer marketing. Namun, kapan sebaiknya menggunakan masing-masing metode? Baca artikel berikut ini untuk lebih lengkapnya!

Cara Mengukur ROI Influencer Marketing agar Campaign Lebih Efektif
Bagaimana cara mengetahui influencer campaign brand kamu berhasil? Pelajari cara mengukur ROI influencer marketing menggunakan metrik yang relevan dan mudah dipahami melalui artikel berikut ini!

Berapa Budget Influencer Marketing yang Ideal untuk UMKM?
Menentukan budget influencer marketing sering menjadi tantangan bagi UMKM. Artikel ini membahas cara menentukan anggaran yang tepat, memilih influencer sesuai kebutuhan bisnis, dan memaksimalkan hasil campaign tanpa harus mengeluarkan biaya besar.